EPOS KEPAHLAWANAN DAN KELAZIMAN TENTANG MENJADI MANUSIA

Aku bukan pahlawan berparas tampan. Sayap-sayapku pupus terbakar. Salah benar
semua pernah kulakukan. –Bukan Pahlawan

Menjadi pahlawan memang terdengar seperti mimpi yang tak pasti. Pahlawan identik dengan hal-hal keren dan populer. Ya, bahkan guru yang dibilang pahlawan tanpa tanda jasa aja tetap terkesan keren.

Dengan semangat antimainstream, maka cerita-cerita kepahlawanan perlu ditinjau dari sudut yang berbeda. Pahlawan yang tak populer dan mungkin tak keren. Pahlawan yang sebenarnya secara sederhana, berkontribusi bagi peradaban manusia tanpa hingar bingar popularitas. Maka, izinkanlah saya menutur dua epos tentang kepahlawanan yang mampu dilakukan setiap orang.

Pahlawan pertama adalah teman saya -entah dia menganggap saya teman atau tidak- yang tanpa dia sadari telah membantu menyelamatkan nyawa bayi, bahkan nyawa para wanita yang telah menjadi ibu. Setidaknya ini yang saya baca dari website National Geographic. Lalu bagaimana cara dia melakukan itu semua? Dengan memberikan ASI untuk anaknya. Teman saya di cerita ini bernama Maharani. Pahlawan kita ini berprofesi sebagai abdi negara yang memiliki jam kerja sampai pukul 17.00. Profesi sangat biasa yang lebih sering dicela. Lalu kenapa dia dituturkan sebagai pahlawan dalam kisah ini? Continue reading