SEDIKIT MEMBANTU PAK PRESIDEN

WP_20150309_025Pemerintah telah memiliki perencanaan pembangunan proyek-proyek infrastruktur strategis, seperti jalan tol, rel kereta api, armada kapal dan pelabuhan laut bertaraf internasional, serta pembangkit listrik alternatif. Namun, berdasarkan Global Competitiveness Report 2014-2015 yang dirilis oleh Wold Economic Forum, kinerja infrastruktur Indonesia belum mampu mendukung daya saing yang lebih baik. Pada laporan tersebut, indeks infrastruktur Indonesia menduduki peringkat ke-56 dari 144 negara yang disurvei dengan angka indeks 4,4. Di antara negara-negara ASEAN, peringkat negeri kita masih kalah dengan Thailand (peringkat 48 dengan angka indeks 4,58), Malaysia (peringkat 25 dengan angka indeks 5,46), Singapura (peringkat 2 dengan angka indeks 6,54). Continue reading

Advertisements

HARGA KENYAMANAN KERETA API EKONOMI JARAK JAUH

Foto-0086Awal  April ini masyarakat pengguna kereta api kembali heboh. Sebenernya hebohnya juga nggak heboh-heboh banget. Karena sebenarnya sudah ada sedikit antisipasi kehebohan :D. Cerita berawal ketika pada awal Januari 2013, PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) mulai memasang fasilitas Air Conditioner (AC) pada beberapa gerbong Kereta Api Ekonomi Jarak Jauh (KAEJJ). Seperti kata pepatah ”Ana rega ana rupa” , tentu saja fasilitas ini hanya bisa diperoleh dengan mengorbankan beberapa rupiah lebih mahal dari harga KA Ekonomi non AC. Setidaknya sampai akhir Maret 2013, KAEJJ masih terdiri atas KA Ekonomi non AC dan KA Ekonomi AC.

Nah, menjadi heboh ketika di awal April KAEJJ hanya terdiri atas KA Ekonomi AC. Sudah pasti harga yang harus dikeluarkan oleh pengguna jasa ini bertambah. Yang jadi masalah tambahnya nggak itung-itung gan. Saya kasih contoh harga tiket KA Ekonomi Bengawan jurusan Pasar Senen – Solo Jebres. Harga tiket non AC kereta ini adalah Rp37.500,00, sementara harga tiket AC-nya mencapai Rp120.000,00 (bahkan Rp150.000,00). Muke gile deh 300% lebih naiknya :hammer. Continue reading

I’M SORRY TO SAY GOOD BYE

Hampir semua orang membutuhkan jasa perbankan di zaman modern seperti sekarang ini. Kita memerlukan jasa transfer dari bank untuk menerima uang saku bulanan. Kita menyimpan kelebihan uang kita dengan menabung di bank. Kita membutuhkan dana kredit dari bank. Dan memang banklah institusi yang dipercaya masyarakat untuk menghimpun dana dari masyarakat, lalu menyalurkannya pula.

Permasalahan timbul ketika bank menerapkan sistem bunga (riba) yang jelas termasuk dosa besar bagi umat muslim. Alloh berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu…” (Al Baqarah 278-279). Bahkan riba juga termasuk dalam tujuh dosa besar yang dijelaskan oleh Rasululloh Shalalllohu ‘alaihi wasallam. (Lihat hadist riwayat Bukhori (2766, 5764) dan Muslim (89) dari Abu Hurairah). Beliau juga bersabda, “Apabila telah tampak perzinaan dan riba di suatu negeri, maka mereka berarti telah menghalalkan azab untuk diri mereka.” (HR Ath Thabrani dan Al Hakim). Dalil-dalil di atas menunjukkan segala praktek pembungaan adalah haram, baik yang dilakukan oleh individu, bank, asuransi, pasar modal, pegadaian, koperasi, maupun lembaga keuangan lainnya. (Lihat Fatwa MUI Nomor 1 Tahun 2004).

Terkadang orang berkata, “Ah saya kan nggak ngambil bunganya.” Benar Anda tidak mengambil bunganya, tetapi ketika kita terlibat di dalamnya berarti kita telah tolong-menolong dalam perbuatan dosa. Lalu apakah berarti kita sama sekali tidak boleh bermuamalah dengan bank sistem ribawi (konvensional)? Sebenarnya tidak semua produk bank konvensional, seperti jasa transfer dan jasa penitipan di safe deposit, adalah haram. Namun, seiring dengan keberadaan bank syariah yang juga memiliki fasilitas seperti bank konvensional, sudah semestinya kita beralih ke bank syariah. Apalagi sekarang bank maupun lembaga keuangan syariah lainnya semakin banyak tersebar dan mudah dijangkau. Hal ini membuat alasan darurat tidak berlaku lagi. Continue reading

MENGUBAH POLA PIKIR

Mempelajari ekonomi, apalagi memperjuangkannya adalah sesuatu yang mungkin tidak pernah terbesit dalam benak sebagian manusia, seperti saya. Namun, terkadang takdir membuat manusia harus melewati apa yang ada demi sesuatu yang diyakininya bernilai mulia. Mempelajari ekonomi berarti mempelajari alokasi sumberdaya terbatas yang ada untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Begitulah pola pikir yang kita temui ketika berada di jenjang Sekolah Dasar, bahkan sampai di mata kuliah Pengantar Ekonomi di jenjang Perguruan Tinggi. Dari titik tersebut, pola pikir “manusia ekonomi” terbentuk. Manusia menganggap sumberdaya memang terbatas sehingga mereka harus bertarung mendapatkannya demi memenuhi kebutuhan, menganggap semua kebutuhan harus terpenuhi tanpa peduli, disertai pula dengan pola pikir ala hedonisme-nya Aristoteles. Pola pikir tersebut ternyata begitu berpengaruh dalam kehidupan manusia baik kaitannya dengan kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, maupun kehidupan bernegara. Continue reading