TAK ADA KEADILAN DALAM RIBA’ (BUNGA)

world moneyKebanyakan ekonom dan pengusaha meyakini bahwa aktivitas ekonomi bisnis adalah sesuatu yang bersifat positif, jauh dari norma-norma khususnya norma agama yang mengikatnya. Keyakinan ini mungkin benar jika diterapkan dalam agama atau keyakinan yang memisahkan urusan ibadah keagamaan dengan urusan ekonomi yang dianggap bentuk komersialisasi keduniaan. Namun, keyakinan ini tak berlaku dalam Islam mengingat Islam adalah agama yang bersifat universal. Semua berada dalam satu sistem yang saling terintegrasi dalam penerapannya.

Dilarangnya penerapan riba’ (bunga) dalam Islam merupakan suatu hal yang wajib ditaati oleh setiap muslim. Hal ini sesuai dengan firman Alloh, Orang-orang yang mengambil riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al Baqarah : 275). Continue reading

Advertisements

I’M SORRY TO SAY GOOD BYE

Hampir semua orang membutuhkan jasa perbankan di zaman modern seperti sekarang ini. Kita memerlukan jasa transfer dari bank untuk menerima uang saku bulanan. Kita menyimpan kelebihan uang kita dengan menabung di bank. Kita membutuhkan dana kredit dari bank. Dan memang banklah institusi yang dipercaya masyarakat untuk menghimpun dana dari masyarakat, lalu menyalurkannya pula.

Permasalahan timbul ketika bank menerapkan sistem bunga (riba) yang jelas termasuk dosa besar bagi umat muslim. Alloh berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu…” (Al Baqarah 278-279). Bahkan riba juga termasuk dalam tujuh dosa besar yang dijelaskan oleh Rasululloh Shalalllohu ‘alaihi wasallam. (Lihat hadist riwayat Bukhori (2766, 5764) dan Muslim (89) dari Abu Hurairah). Beliau juga bersabda, “Apabila telah tampak perzinaan dan riba di suatu negeri, maka mereka berarti telah menghalalkan azab untuk diri mereka.” (HR Ath Thabrani dan Al Hakim). Dalil-dalil di atas menunjukkan segala praktek pembungaan adalah haram, baik yang dilakukan oleh individu, bank, asuransi, pasar modal, pegadaian, koperasi, maupun lembaga keuangan lainnya. (Lihat Fatwa MUI Nomor 1 Tahun 2004).

Terkadang orang berkata, “Ah saya kan nggak ngambil bunganya.” Benar Anda tidak mengambil bunganya, tetapi ketika kita terlibat di dalamnya berarti kita telah tolong-menolong dalam perbuatan dosa. Lalu apakah berarti kita sama sekali tidak boleh bermuamalah dengan bank sistem ribawi (konvensional)? Sebenarnya tidak semua produk bank konvensional, seperti jasa transfer dan jasa penitipan di safe deposit, adalah haram. Namun, seiring dengan keberadaan bank syariah yang juga memiliki fasilitas seperti bank konvensional, sudah semestinya kita beralih ke bank syariah. Apalagi sekarang bank maupun lembaga keuangan syariah lainnya semakin banyak tersebar dan mudah dijangkau. Hal ini membuat alasan darurat tidak berlaku lagi. Continue reading