DEWI MALAM DI PAGI HARI

Dewi malam datang terlambat
seiring alunan angin malam yang tlah pergi fajar tadi.
Dia tampak berbeda…
tak lagi temani aku menari menuju khayalan.

Dewi malam datang di pagi hari.
Mengajakku melayang di harmoni rintik hujan yang berbaur dengan jingga ufuk fajar.
Menari-nari menggapai harapan.

Ketika aku lelah menatapnya,
tampak embun dan rintik hujan bercampur peluh yang mewangi.
Lembut basahi paras cantiknya.

Dewi malam…
Seperti bertutur mengajakku bergerak.
Menari menggapai harapan.
Berlari meski terdengar alunan mendayu yang berteriak untuk tinggal

4 Juni 2013

Advertisements

MAAFKAN DIAMKU

Maaf tak kujawab sapamu.
Aku diam kala itu.

Harusnya itu tak menyakitkan,
karna aku tahu kau tahu.

Maafkan diamku.
Tak kujawab pula nanti.
Dan lagi-lagi aku tahu kau tahu.

Tenanglah.
Sungguh ingin kubalas sapamu,
panggilmu.
Dengan senyum termanisku.
Suara terindahku.
Jika…
Jika telah sampai masa waktu.
Kala tabir telah jelas tuk kita.

7 Juni 2010

MENANTI PAGI

Kelam malam perlahan selimuti terang lazuardi.
Beriringan kala bagaskara turun ke horizon.

Hatiku bak koefisian yang tetap dalam tiap kondisi.
Tetap benderang meski malam hari.

Senangnya hati ini,
bila lelap menghampiri.
Memang bukan insomia,
mungkin karna pembuluh darah yang melebar.

Berharap tak terasa,
waktu yang bergulir lama.
Malam hingga pagi tiba.

Tak kusangka bintang-bintang mengerling nakal
ketika aku tersenyum sendiri.
Bulan yang masih baru pun tersenyum melihat tingkahku.
Rasanya tak sabar ingin segera bertemu denganmu.
Menanti pagi tuk itu.

26 Juli 2010

TUAN MAULA

“Tuan izinkan aku berkhianat.”
pinta Maula.

“Mungkinkah engkau berpaling dariku sementara aku Tuanmu?”
jawab Tuan.

Maula berkata,
“Tuan, kita berada di kondisi salah yang terhubung satu dan lain.
Manusia menyebut sistem.

Tuan, sistem adalah input, proses, dan output.
Dan mereka semua salah.

Aku adalah engkau yang dulu.
Aku mujadid.
Pengkonversi ulung benar.

Bahkan sekarang aku berhasil memanen tanamku.
Membuat manusia berpikir mauku.

Sungguh, engkau Tuan lemah dan aku BUDAK kuat.”

Karakter Tuan kalah.
Bisa jadi selamanya meratapi Tuan Maula.
Tuan Budak
yang lupa karakternya di naskah skenario.

3 September 2010

TIGA BERKAS SINAR

Gelap tak kunjung pergi.
Masih selimuti.
Rapat.
Menenangkan dan merasa nyaman bersama.

Beberapa berkas sinar tampak.
Menarik perhatian yang dikelilingi gelap mulanya.

Tiga.
Berkas sinar itu tiga.
Menjanjikan kondisi,
peluang menerangi gelap yang membuat nyaman selama ini.

Surya di ketidakberesan sistem iklim
menguatkan berkas-berkas itu.
Pun asa yang hampir tak muncul di konservatifnya hatiku.
Menguatkanku menuju salah satu.

Ragu.
Ragu meninggalkan kenyamanan ini.
Namun cerah lebih nyaman.

Aku berharap meraihnya.
Meski waktu tak cakap hantarkan cerah satu sinar
sekarang ini.

8 September 2010

ALPA TERHADAP KEPASTIAN

Keinginan menggebu seperti tanpa gesekan.
Bergerak liar di akal
bahkan, di hati.

Sementara desahan maut senantiasa menemani.
Eksis.
Mutlak ada
agar janji kehidupan setelahnya adalah benar.

Aku hanya tak paham,
mengapa tak juga sadar.
Tentang kepastian.
Tentang hidup yang indah.
Yang malah kujalani tanpa titah.

9 Oktober 2010

PELAJARAN ANONIM

Serakah hegemoni kapital memang mahal.
Menaikkan nilai eksplisit yang menakutkan.

Bijaknya Tuhan,
berikan pelajaran lewat kesempatan.
Bukan di altar-altar universitas yang angkuh.

Hanya di kesempatan…
Di kehidupan.
Implisit dan penuh makna.
Meski kadang sulit mengindikasi nilainya.

Bukan dengan para pengukir cerita di buku sejarah.
Hanya lewat beberapa orang anomin
yang tak banyak mereka dikenal.

3 Desember 2010

CITRA SALAH KAPRAH

Di antara kesempurnaan citra
tersingkap bait-bait piksel tempelan yang tak mecing.
Membosankan karna orientasi yang sebenarnya salah kaprah.
Mematikan keluarbiasaan
dan menghidupkan kebiasaan.

Entah mengapa,
manusia menganggapnya baik dengan sudut pandang sebesar lubang sedotan.

Bumi terhampar luas.
Rizki tak kan habis sebelum sempurna.
Dan aku masih punya Penyayang yang di tangan-Nya hatiku berada.

Menyesal berada di sini tak membuat citra yang salah terkoreksi.
Sebab koreksi adalah aksi,
bukan ratapan sesal masa lalu.

– 26 Agustus 2010-

REDUP

Cekam kelam lemahkan cahya keistiqomahan.
Meredup
seperti landskap yang kita lihat senja tadi.

Lisanku kelu
berucap pisah.
Meski kutahu,
kelam tlah membuat yang putih kelabu.

***

Surya tlah kalah.
Tinggalkan jejak di ufuk lazuardi.
Lalu sebuah bulan dan jutaan bintang muncul.
Membantu nyala cahya dalam cekam sang kelam.

-24 November 2010-

By skynomics Posted in Sastra