EPOS KEPAHLAWANAN DAN KELAZIMAN TENTANG MENJADI MANUSIA

Aku bukan pahlawan berparas tampan. Sayap-sayapku pupus terbakar. Salah benar
semua pernah kulakukan. –Bukan Pahlawan

Menjadi pahlawan memang terdengar seperti mimpi yang tak pasti. Pahlawan identik dengan hal-hal keren dan populer. Ya, bahkan guru yang dibilang pahlawan tanpa tanda jasa aja tetap terkesan keren.

Dengan semangat antimainstream, maka cerita-cerita kepahlawanan perlu ditinjau dari sudut yang berbeda. Pahlawan yang tak populer dan mungkin tak keren. Pahlawan yang sebenarnya secara sederhana, berkontribusi bagi peradaban manusia tanpa hingar bingar popularitas. Maka, izinkanlah saya menutur dua epos tentang kepahlawanan yang mampu dilakukan setiap orang.

Pahlawan pertama adalah teman saya -entah dia menganggap saya teman atau tidak- yang tanpa dia sadari telah membantu menyelamatkan nyawa bayi, bahkan nyawa para wanita yang telah menjadi ibu. Setidaknya ini yang saya baca dari website National Geographic. Lalu bagaimana cara dia melakukan itu semua? Dengan memberikan ASI untuk anaknya. Teman saya di cerita ini bernama Maharani. Pahlawan kita ini berprofesi sebagai abdi negara yang memiliki jam kerja sampai pukul 17.00. Profesi sangat biasa yang lebih sering dicela. Lalu kenapa dia dituturkan sebagai pahlawan dalam kisah ini?

Her long distance relationship. Yup, jika seorang suami LDR-an dengan istri dan anaknya, meski itu tidak ideal, maka masyarakat beranggapan itu hal yang dapat diterima. Bahkan mungkin lazim di tempat Maharani bekerja. Cuma, ternyata rekan saya ini LDR-an dengan anaknya. Kok bisa? Well, saya rasa setiap manusia memiliki pilihan dan tentu saja, dia harus bertanggung jawab atas pilihannya itu. Saya meyakini Maharani telah mempertimbangkan setiap aspek sehingga dia dan suami memilih untuk LDR dengan anaknya.

Kepahlawanan Maharani diawali dari pergantian hari. Wanita asal Yogyakarta ini selalu mengantarkan paket berisi ASI hasil perahannya sebelum pukul 00.00 ke Cengkareng untuk memperoleh flight pengantaran pertama.

Bagi saya, ini sangat istimewa. Maharani adalah segelintir inspirasi dari sekian banyak wanita yang bekerja di luar rumah yang berkomitmen untuk tetap memberikan ASI bagi buah hatinya. Menyusui bukanlah suatu hal yang berhubungan dengan kemiskinan atau negara miskin. Faktanya, ASI dipercaya para peneliti dapat meningkatkan kecerdasan, melindungi anak dari obesitas dan diabetes pada anak di kemudian hari.

Cerita kedua masih tentang orang Jogja yang memiliki ide luar biasa. Jika kita pernah berkunjung ke Yogyakarta, maka perhatikanlah beberapa titik traffic light yang ada. Dengan kecanggihan teknologi yang ada, para pemangku kepentingan dapat menyampaikan pesan bagi pengguna jalan.

“Hemat BBM, matikan mesin hingga detik ke-20”. begitulah kira-kira tulisan yang terbaca di timer traffic light. Awesome. Ini ide keren dari pemerintah Jogja. Sampaisampai asumsi dan perhitungannya juga dimuat di laman resmi Pemerintah Kota Yogyakarta.

Lebih dari itu, akumulasi polutan di persimpangan dengan traffic light bisa dikatakan sangat tinggi. Bayangkan saja jika kita berhenti 60 detik di perempatan jalan, maka setidaknya kita akan menghirup partikel polutan itu selama 180 detik. Belum lagi dengan perilaku primitif beberapa pengguna jalan yang hobi bermain gas bahkan melewati garis lurus yang tegak lurus dengan zebra cross. Bila para pengguna jalan di kota besar mampu menerapkan kearifan ala Jogja ini, saya rasa jalanan akan lebih ramah bagi siapa saja.

Kepahlawanan bukan melulu tentang hal-hal keren dan populer. Sebagian dari kita mungkin mampu memberikan kontribusi sekian rupiah bagi penerimaan negara. Sebagian lain mungkin mampu menyelamatkan negara dari para koruptor. Hanya saja, tidak semua orang memiliki kesempatan seperti sebagian orang tadi. Lalu, bagaimana jika kita mengubah cara pandang menjadi bagaimana caranya setiap orang mampu berkontribusi bagi peradabannya? Saya rasa semua orang mampu untuk santun di jalan, menyimpan sampahnya sampai menemukan tempat sampah, atau mungkin meletakkan alas kaki dengan rapi saat memasuki masjid. Karena sesungguhnya, kepahlawanan adalah tentang menjadi manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s