SEDIKIT MEMBANTU PAK PRESIDEN

WP_20150309_025Pemerintah telah memiliki perencanaan pembangunan proyek-proyek infrastruktur strategis, seperti jalan tol, rel kereta api, armada kapal dan pelabuhan laut bertaraf internasional, serta pembangkit listrik alternatif. Namun, berdasarkan Global Competitiveness Report 2014-2015 yang dirilis oleh Wold Economic Forum, kinerja infrastruktur Indonesia belum mampu mendukung daya saing yang lebih baik. Pada laporan tersebut, indeks infrastruktur Indonesia menduduki peringkat ke-56 dari 144 negara yang disurvei dengan angka indeks 4,4. Di antara negara-negara ASEAN, peringkat negeri kita masih kalah dengan Thailand (peringkat 48 dengan angka indeks 4,58), Malaysia (peringkat 25 dengan angka indeks 5,46), Singapura (peringkat 2 dengan angka indeks 6,54).

Disahkannya Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah benar-benar harus dimanfaatkan Indonesia untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Berlakunya peraturan ini telah menjadi tanda komitmen pemerintah dalam kerangka pengelolaan Barang Milik Negara/Barang Milik Daerah (BMN/BMD) yang lebih komperhensif.

Masih berhubungan dengan dua paragraf di atas, sebulan yang lalu kami dimintai bantuan untuk melakukan penilaian aset pemerintah daerah yang akan dijadikan jalan tol. Yup, jalan tol. Dan kabar baiknya jalan itu bukan di pulau Jawa.

Sebagai orang Jawa yang memegang teguh budaya Eropa, eh salah itu kan Dodit. Maksudnya sebagai orang Jawa yang lama tinggal di Jawa. Bila Anda membandingkan infrastruktur berupa jalan di Jawa dengan di Sumatera, yang agak dekat dengan Jawa, kualitasnya jauh bray. Bagus di Jawa tentunya. Bisa dibayangkan, jalan trans Sumatera itu sebagian besar cuma dua lajur. Nah kalo sudah, coba bayangkan jarak Bakauheni sampai Banda Aceh itu lebih dari 2.000 km. Kebayangkan gimana rasanya jadi supir truk.

Kembali lagi ke masalah penilaian tadi, tanah yang akan dijadikan jalan tol itu terletak di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Jalan itu nantinya akan menghubungkan Kayuagung (OKI) dengan Jakabaring (Palembang) sepanjang 37 km. Jika selama ini perjalanan Palembang-Kayuagung paling cepat ditempuh dalam waktu 2 jam, melalui jalan tol waktu tempuh kedua kota itu harusnya bisa sekitar 40 menit.

Rasanya tidak afdhol kalo tidak ngomongin soal kendala…hehe. Soalnya banyak cerita-cerita dibalik pembangunan tol ini. Cerita yang akan saya bahas tentu saja masalah klasik bernama pembebasan lahan. Diantara kabar yang insya Alloh shohih adalah kisah pembunuhan kepala desa gara-gara pembebasan lahan. Ceritanya, Pak Kades sudah tahu rencana pembangunan jalan tol ini. Dia pun punya ide cemerlang untuk membeli tanah-tanah warganya. FYI aja, di daerah Sumatera Selatan itu kebanyakan tanahnya adalah tanah rawa. Ada yang mau beli aja sudah bersyukur lho. Nah, dijuallah tanah-tanah warga itu kepada Pak Kades sampai berpindahlah kepemilikan dari warga ke Pak Kades.

Singkat cerita, Pemkab OKI pun membebaskan lahan untuk jalan tol tersebut. Tentu saja harga pembebasan itu di atas harga beli dari Pak Kades kepada warganya. Konon katanya, Pak Kades dapat ganti rugi pembebasan sampai 1 M. Warga pun merasa dikhianati. Dan….terjadilah apa yang terjadi. Pembunuhan kepala desa oleh warganya. Kayak di film-film itu, si pelaku juga tidak mengambil harta Kades. Sehingga, bisa dikatakan ini adalah murni pembunuhan.

Masih ingat dengan janji kampanye Pak Jokowi? Jika saya tidak salah ingat, beliau pernah berjanji membangun infrastruktur. Pembangunan tol ini bisa dikatakan salah satu pembuktian janji beliau. Hanya saja perlu diingat, Pak Jokowi sebenarnya juga tinggal meneruskan pekerjaan Pak SBY. Ini bukan berarti saya haters lho ya. Kenapa saya bilang begitu, kisah pembunuhan Pak Kades tadi sudah terjadi di tahun 2010 lho guys. FYI lagi, tol ini adalah bagian dari Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang dicetuskan zaman Pak SBY dulu.

Bila suatu hari nanti lewat jalan tol Kayuagung-Palembang bersama anak saya kelak, saya berharap bisa bilang, “Le, ndhisik Abi yo melu berjasa mbangun tol iki lho.”

Image : dokumentasi pribadi diambil di Desa Terusan Laut

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s