KOMUNIKASI : TEORI

Postingan kali ini adalah kelanjutan dari postingan KOMUNIKASI : KONSEP. Seperti janji saya, ini masih rangkaian dari Massive Open Online Course (MOOC) Introduction to Communication Science, University of Amsterdam’s.

teoriKonsep punya peranan penting dalam semua teori. Teori, simpelnya, bisa didefinisikan sebagai semua pernyataan tentang realita yang dicari untuk menjelaskan atau memprediksikan hubungan antar fenomena. Misalnya, teori gravitasi. Jika kita menjatuhkan pensil, pensil itu akan jatuh ke lantai (ke tempat yang lebih rendah). Prediksi yang spesifik dari sebuah teori, disebut hipotesis. Kalo begitu, pernyataan “Jika kita menjatuhkan pensil, maka pensil akan jatuh ke lantai” bisa dikatakan sebuah hipotesis. Nah, ketika visualisasi dari pernyataan dalam hipotesis tadi, kita sebut model. Biar enak monggo diperhatikan capture-an saya ini.

teori proof dis proofDengan memperhatikan contoh jatuhnya pensil tadi, sekarang kita coba ubah variabel-variabel di dalamnya. Hipotesis kali ini adalah “Jika kita memberikan hadiah kepada seseorang, maka orang tersebut akan lebih menyukai kita”. Jadi “memberi hadiah” di sini merupakan variabel bebas, sementara “orang akan lebih menyukai kita” merupakan variabel terkait.

Kita dapat membuktikan kebenaran hipotesis kita dan keterkaitannya dengan teori yang berhubungan dengan benar-benar menjatuhkan pensil atau memberikan hadiah kepada seseorang kemudian memeriksa apakah hasil percobaan tadi sesuai dengan hasil yang diharapkan. Dengan kata lain, kita menguji dan membuktikan teori kita dengan riset. Ngomongin soal riset, ada yang namanya metode primer (mengumpulkan data sendiri) dan metode sekunder (mempelajari hasil yang sudah ada). Pengumpulan data sendiri (primer) dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti observasi, melakukan percobaan dengan membatasi variabel yang ada, survei, wawancara, dan analisis konten.

Dalam realita yang ada, banyak teori yang tidak dapat dites. Misalnya, kita tidak dapat mengamati hubungan yang diduga ada. Well, coba hubungi sama contoh teori di atas. Teori “Jika bla bla bla, maka bla bla bla” atau kerennya  “everything happens for a reason”. Teori ini mungkin benar, tapi terkadang kita tidak punya akses terhadap suatu metode untuk menguji teori ini. Terkadang (lagi), sebuat teori merupakan kombinasi dari teori-teori yang ada. Beberapa teori juga tidak membuktikan apa-apa, tetapi lebih pada menambah perspektif atau pendekatan.

Perspektif kadang juga disebut sebagai teori, tapi dalam kursus ini kita menyebutnya sebagai paradigma atau pendekatan, karena perspektif, paradigma, maupun pendekatan kurang sesuai dengan definisi teori (teori memberikan nilai prediktif).

Semoga bermanfaat, tunggu postingan selanjutnya tentang Transmisi dalam Komunikasi, insya Alloh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s