NGOMONGIN BANJIR

Pekan ini bener-bener deh media dipenuhi kata banjir. Mau gimana lagi, emang kenyataanya begitu. Belum lagi katanya emang orang Indonesia itu paling cerewet di sosmed twitter. Kebetulan juga hari ini saya kepikiran tentang kuliah-kuliah masa lalu yang berkaitan dengan bumi ini. Sebenernya sih gara-gara saya baca status FB dosen saya. Tapi mendadak pengen corat-coret tentang air, juga tentang keberkahan hujan. Semoga bisa memberi sudut pandang yang lebih fresh dan lebih lain :D.

Ngomongin soal banjir, pasti akan ngomongin juga masalah hujan. Ntar larinya ke siklus hujan, tapi insya Alloh kita akan ngomongin apa yang terjadi terhadap air yang turun setelah hujan. Kalo istilah kerennya kita bakal bahas air yang mengalami tiga kondisi yang disebut infiltrasi (meresap ke tanah), perkolasi (meresap sampai ke kedalaman tertentu hingga mencapai air tanah), dan run off (mengalir di atas permukaan tanah).

Nah, karena blog ini biasanya ngebahas ekonomi dan karena hujan sebenarnya adalah berkah, maka kita paksa untuk menghubungkan antara banjir, hujan, berkah, siklus hidrologi, dan toponimi. Kali aja nanti bisa jadi tesis atau disertasi #mulaiberkhayal.

Well, di antara waktu-waktu yang mustajab untuk memanjatkan doa adalah saat hujan turun. Makanya, sebaiknya kalo hujan turun lebih baik berdoa daripada merasa sebel. Ini nasihat buat saya juga sebenarnya :D.

ثنتان ما تردان : الدعاء عند النداء ، و تحت المطر

“Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun.”

 (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al Albani di Shahih Al Jami’, 3078)

Hujan itu nikmat Alloh yang luar biasa. Saya rasa terlalu banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang bagaimana Alloh menghidupkan bumi yang kering dan gersang, begitu pula bagaimana Alloh memberikan minum bagi hamba-hambaNya. Bahkan di dalam doa saat hujan isinya adalah meminta manfaat dari hujan yang turun ( اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً).

Hujan yang bermanfaat adalah hujan yang airnya “menghidupkan”. Maksudnya mengalami infiltrasi maupun perkolasi. Ketika air terinfiltrasi, maka air tersebut akan menyuburkan tanah yang menyerapnya, menyuburkan tanaman-tanaman yang ada. Air hujan yang akhirnya menjadi air tanah juga memberikan manfaat bagi kehidupan. Yang jadi masalah adalah ketika air tak mampu terinfiltrasi dan semuanya menjadi run off. Kalo run offnya ditampung mampu diolah kembali sih gak masalah, misalnya dijadiin air bakunya PDAM. Nah sayangnya negeri kita belum sekeren itu. Kalo hujan ya jalanan berasa seperti bak raksasa yang siap menahan air untuk beberapa saat. Kalo hal ini terjadi, IMHO sih harusnya kita berdoa gini,

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.”

 (HR. Bukhari no. 1013 dan 1014)

Sekarang kita hubungkan masalah-masalah di atas dengan ilmu toponimi. Istilah gampangnya toponimi merupakan ilmu yang mempelajari penamaan suatu tempat di bumi ini. Di Indonesia, lembaga yang berwenang akan toponimi adalah Badan Koordinasi Survey dan Tanah Nasional (Bakosurtanal). Setidaknya, badan inilah yang maju sebagai juru bicara Indonesia di PBB. Sesuai namanya, Bakosurtanal mengkoordinasikan masalah toponimi dengan berbagai pihak seperti ahli bahasa, sosiolog, sejarawan, bahkan sesepuh yang tinggal di daerah yang akan dinamai itu.

Tadi pagi pas FB-an, saya melihat status dosen saya yang cukup menarik,

“Daftar wilayah banjir Jakarta tahun ini sebenarnya hanya mengkonfirmasi kembali kebenaran nama-nama tempat tersebut sebagai wilayah yang berasosiasi dengan air. Perhatikan banyak nama tempat yang secara tekstual menggunakan nama Muara, Pulo, Sawah, Rawa, Ci dan Kali; atau yang secara tersirat mengindikasikan adanya air di sana seperti Penjaringan (kata dasarnya jaring, berasosiasi dengan air), Pancoran (air lagi), Tanjung (daratan yang menjorok ke laut), Tebet (jangan-jangan ini dulu aslinya tebat yang dalam dialek Betawi lalu jadi Tebet). Halo para ahli toponimi, mohon pencerahan.”

Saya jadi inget quotes yang cukup terkenal di Indonesia, “Nama itu doa.” Nah kalo begitu siapa yang salah? Masak yang ngasih nama? Justru sebenernya melalui nama itu kita tahu treatment dan mitigasi yang tepat atas potensi yang mungkin terjadi di wilayah itu. Semoga…insya Alloh itu akan terjadi. Semoga para geograf, para planner, dan para ahli terkait bisa melakukan yang terbaik. Ehem, bahasa saya keren amat yak :D.

Hujan, berkah, banjir, hidrologi, dan toponimi adalah sesuatu yang ternyata memiliki hubungan. Setidaknya saya paksakan untuk berhubungan. Semoga bermanfaat.

Baca juga tulisan ini

Dilema Toponimi

Keimanan Berkaitan dengan Hujan 

Musim Hujan Telah Tiba (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s